[RETURN_TO_DATABASE]
[KNOWLEDGE_NODE_v1.0]

Kenapa Saya Pindah dari React ke SvelteKit_

ID: BLOG-KENA
[LIVE_ARCHIVE]

Kenapa Saya Pindah dari React ke SvelteKit

Sejak awal saya belajar frontend, React adalah pilihan utama saya. Dokumentasinya lengkap, ekosistemnya luas, dan hampir semua lowongan kerja menyebutnya.
Tapi setelah beberapa tahun, saya mulai merasa React semakin berat — terutama ketika membuat proyek kecil atau prototipe cepat.

Hingga akhirnya saya mencoba SvelteKit, dan pengalaman saya berubah total.


1. React Mulai Terasa “Berat”

React itu powerful, tapi juga kompleks.
Beberapa hal yang mulai membuat saya frustrasi:
-Terlalu banyak boilerplate (import useState, useEffect, dll untuk hal sederhana)
-Harus mengelola bundler (Vite/Webpack) secara manual
-Banyak dependensi tambahan hanya untuk hal dasar (routing, state management, dll)
-Komponen yang mudah membengkak dan sulit dibaca ketika proyek makin besar

React memberi banyak kebebasan — tapi kadang terlalu banyak hingga kita butuh mengatur terlalu banyak hal hanya untuk mulai.

Sebagai contoh, berikut cara sederhana menampilkan counter di React:

// Counter.jsx
import { useState } from "react";

export default function Counter() {
  const [count, setCount] = useState(0);

  return (
    <div>
      <p>Kamu telah mengklik {count} kali</p>
      <button onClick={() => setCount(count + 1)}>Tambah</button>
    </div>
  );
}

2. SvelteKit Lebih “Natural”

Ketika saya pertama kali mencoba SvelteKit, hal yang paling terasa adalah:
-Tidak perlu “overthinking” state dan reactivity
-Reaktifitas terasa alami, cukup dengan let variabel biasa
-Routing otomatis berbasis file
-Integrasi SSR (Server Side Rendering) langsung siap pakai

Berikut kode yang sama jika ditulis dengan Svelte:

<script>
  let count = $state(0);
</script>

<p>Kamu telah mengklik {count} kali</p>
<button onclick={() => count++}>Tambah</button>

Tanpa useState, tanpa hooks, tanpa import tambahan — semua terasa sederhana dan intuitif.
Inilah yang membuat saya merasa menulis UI kembali terasa menyenangkan.


3. Performa & Ukuran Build

Svelte menghasilkan output yang lebih kecil dan lebih cepat, karena:
-Ia meng-compile langsung ke JavaScript murni, bukan menjalankan Virtual DOM.
-Waktu loading dan interaksi terasa jauh lebih ringan, terutama pada aplikasi kecil-menengah.

Sebagai perbandingan:

# Build Size Comparison
React App:     120 KB (minified)
SvelteKit App:  40 KB (minified)

| Angka bisa bervariasi tergantung dependensi, tapi perbedaannya nyata. |


4. Pengalaman Developer (DX)

Kombinasi SvelteKit + Vite benar-benar efisien:
-Hot reload sangat cepat
-Pesan error mudah dipahami
-Setup proyek baru bisa dalam hitungan detik
-Adapter ke Vercel, Netlify, Cloudflare langsung tersedia

Setup proyek baru di SvelteKit modern sesederhana ini:

npx sv create my-app
cd my-app
npm run dev

Kamu langsung dapat routing otomatis (+page.svelte, +layout.svelte) tanpa konfigurasi tambahan.


5. Kapan React Masih Lebih Cocok

Tentu, bukan berarti React jelek.
Saya masih akan memilih React jika:
-Proyek besar dengan banyak tim dan kebutuhan ekosistem library yang luas
-Menggunakan React Native untuk mobile
-Ada integrasi kompleks dengan UI library yang spesifik untuk React

Tapi untuk proyek pribadi, website portofolio, atau dashboard ringan — SvelteKit jauh lebih menyenangkan.


Penutup

Beralih ke SvelteKit membuat saya jatuh cinta lagi dengan frontend.
Kode lebih bersih, performa lebih cepat, dan proses pengembangan terasa menyenangkan.

Kalau kamu merasa React mulai terasa terlalu banyak untuk hal sederhana, mungkin ini saatnya mencoba SvelteKit.


Referensi

0 kali dilihat
Bagikan
enid